SITIARA (37) berbicara tanpa ekspresi. Duduk di sebuah kursi yang agak usang dan bertutur dengan kalimat-kalimat datar. Seakan ia tidak ingin mengenang peristiwa dua tahun silam. Sitiara tinggal di sebuah lorong yang kerap disebut warga setempat Lorong Janda.
Lorong itu terletak di Pulau Baranglompo, sekitar 12 kilometer dari pesisir Makassar. Secara administratif pulau ini terletak di Kecamatan Ujungtanah. Sebagian besar para suami di sana meninggal akibat menyelam di laut mencari teripang.
"Nama Lorong Janda itu ada sejak tujuh tahun yang lalu. Sebagian besar perempuan di sana memang ditinggal mati suaminya," ujar Lurah Baranglompo, A Musyarafa, memberitahukan keberadaan lorong tersebut di Pulau Baranglompo, Sabtu (16/6).
Memang tidak semua menjanda akibat suaminya meninggal karena menyelam. Ada juga perempuan menjadi janda setelah suaminya tidak kunjung pulang dari merantau. Mungkin kecantol perempuan lain. Namun, kasus kematian karena menyelam secara tradisional cukup dominan di sana.
Terdapat sekitar 150 keluarga di lorong sepanjang kurang lebih 300 meter tersebut. Beberapa ibu tanpa suami itu harus meneruskan hidup dengan berdagang kecil-kecilan. Ada juga anak-anak yang sudah cukup besar ikut membantu ibu mereka dengan melaut.
Sittiara menuturkan, suaminya, Nurdin Ba'be, meninggal dua tahun lalu setelah menyelam pada kedalaman 20 meter selama lebih dari satu jam di perairan Kalimantan Timur. Dua hari setelah menyelam sekujur tubuhnya lumpuh sebelum akhirnya meninggal dunia.
"Suami saya sebenarnya tahu bahwa menyelam itu berbahaya. Tapi demi penghasilan, meski berbahaya dia tetap menyelam," katanya dengan Bahasa Makassar sepotong-potong. Selain sang suami, dua anggota keluarganya juga meninggal karena menyelam.
Musyarafa mengatakan, pekerjaan menyelam sebenarnya juga dilakukan hampir oleh semua laki-laki di Pulau Baranglompo. Karena itu, jika kebiasaan menyelam secara tradisional ini berlanjut, ratusan perempuan di Baranng Lompo terancam menjadi janda.
Penyelam hanya menggunakan bantuan kompresor (pemompa udara) yang tersambung dengan selang panjang untuk bernapas. Dengan hanya bercelana pendek dan ujung selang di mulut, mereka masuk ke kedalaman laut, tanpa pelindung apa pun di bagian kepala.
Warga tergiur dengan mahalnya harga teripang. Teripang jenis koro yang banyak dicari. Binatang ini hidup di kedalaman 10 meter lebih. Harganya mencapai Rp 100 ribu per ekor. Sekali menyelam, mereka bisa membawa pulang sampai Rp 2 juta.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr Naisyah TN Azikin, mengatakan, pihaknya telah berkali-kali melakukan sosialisasi tentang bahaya menyelam secara tradisional. Namun, warga beralasan hanya itu pekerjaan yang bisa mereka lakukan.
"Kematian bisa diakibatkan keracunan nitrogen yang dihembuskan oleh kompresor menyerupai alat pemompa ban kendaraan bermotor. Paru-paru penyelam rusak dan nitrogen menyebar ke seluruh tubuh, dan akhirnya merusak jaringan otak. Bisa juga karena tekanan di kedalaman," kata Naisyah.
Saat ini saja, sebanyak 22 orang warga Baranglompo terbaring karena sekujur tubuhnya lumpuh. Sementara yang meninggal tercatat sudah ratusan orang. Terakhir, kasus kematian akibat menyelam dialami Jumadil (18) sekitar 10 hari yang lalu.
Bagaimana efektifitas sosialisasi itu? Naisyah mengatakan, belum terlalu baik hasilnya. Kelumpuhan akibat kerusakan syaraf karena tekanan pada kedalaman 10-20 meter di bawah permukaan air tidak membuat warga kepulauan takut. Sampai saat ini masih banyak saja penyelam tradisional.(furqon majid)
Baca selanjutnya..
Tampilkan postingan dengan label Human Interest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Human Interest. Tampilkan semua postingan
Minggu, 12 Oktober 2008
Indahnya Sinetron di Romangtangayya
AZAN Isya dari sebuah masjid kecil di Kampung Romangtangayya belum lama usai. Rusniah (26) menyaksikan tayangan sinetron pada televisi 14 inci di rumahnya sambil menidurkan anak perempuannya. Tiba-tiba, pett. Listrik padam. Setengah mengeluh ia beranjak ke dalam kamar tidurnya.
Aneh rasanya ada tempat seperti Kampung Romangtangayya sekarang ini. Secara administratif, kampung ini terletak di Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, di dalam Kota Makassar. Tetapi suasananya seperti di daerah pedalaman yang terkucil.
Tidak ada sambungan listrik dari PLN, air bersih dari PDAM, apalagi jaringan telepon dari Telkom. Satu-satunya pembangkit listrik yang ada di Romangtangayya adalah sebuah genset milik ketua kampung berkapasitas 3.000 watt dengan waktu operasi yang sangat terbatas.
Kampung di sebelah timur Tamangapa ini dikelilingi hamparan persawahan dan lahan kosong yang sangat luas. Seperti pulau di tengah lautan. Tidak ada juga akses jalan ke sana. Satu-satunya jalan yang harus dilalui warga adalah pematang sawah sepanjang kurang lebih dua kilometer.
Rusniah, suami, dan anak mereka tinggal di sebuah rumah panggung. Mereka adalah satu dari 100 keluarga lainnya yang tinggal di kampung terkucil itu. Setiap hari mereka hanya menikmati listrik selama tiga jam, mulai pukul 18.00 sampai 21.00. Selebihnya, gelap sepanjang malam.
"Saya suka sekali nonton sinetron. Tapi selalu tidak habis dilihat. Sebab, listrik sudah mati sebelum sinetronnya habis," katanya dengan Bahasa Indonesia berlogat Makassar. "Saya ingin nonton sinetron sampai larut malam," katanya penuh harap.
Tidak ada yang tahu persis sejak kapan kampung ini dihuni. Lurah Tamangapa, Mahyudin, berkisah, kampung ini adalah tempat pelarian pembangkang pajak kolonial. Dulu adalah sebuah tempat di tengah hutan. Seperti namanya, Romang dalam bahasa Makassar berarti hutan dan tangayya berarti tengahnya.
Dg Ruppa, seorang warga, mengatakan, 20 tahun yang lalu kampung ini sering menjadi sasaran jarahan perampok. Sekarang sudah tidak lagi. Tapi kampungnya ini selalu terendam air sedalam 1-1,2 meter setiap musim hujan karena luapan kanal pembuangan Sungai Jeneberang.
Luapan itu mengubah kampung dan hamparan sawah menjadi danau. Jika tidak dengan perahu, tidak ada warga keluar kampung, tidak ada anak-anak bersekolah. Wakil Wali Kota Makassar, Andi Herry Iskandar, Selasa (21/11) lalu, mengatakan, tanggul pinggir kanal untuk menghalau air adalah prioritas.
"Listrik itu nanti. Yang penting air tidak masuk kampung," tegasnya. Rusniah dan puluhan ibu-ibu yang lain tampaknya harus menerima pernyatan ini. Kenyataanya, banjir memang lebih berbahaya ketimbang tak melihat sinetron.(furqon majid)
Baca selanjutnya..
Label:
Human Interest
Langganan:
Postingan (Atom)







